Fenomena hobi memelihara burung kicau kembali menjadi perbincangan publik setelah lagu Kicau Mania yang dibawakan Ndarboy Genk viral di berbagai platform media sosial. Lagu yang terinspirasi dari kegemaran terhadap murai batu tersebut tidak hanya mendapat sambutan hangat dari para penghobi, tetapi juga memperkenalkan budaya kicau mania kepada masyarakat yang lebih luas. Di balik ramainya arena lomba dan tingginya antusiasme para penggemar, terdapat tantangan yang tidak boleh diabaikan, yakni bagaimana memastikan kecintaan terhadap burung tidak berujung pada berkurangnya populasi burung di alam. Sebagai contoh, survei yang dilakukan SCENTS pada tahun 2024-2025 menemukan sedikitnya 23 jenis burung dilindungi diperdagangkan di sekitar Cagar Biosfer Blambangan, Jawa Timur. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 11 persen dari seluruh jenis burung yang dilindungi di Indonesia. Temuan ini menunjukkan bahwa perdagangan burung liar masih menjadi ancaman nyata bagi upaya pelestarian keanekaragaman hayati. Tingginya minat terhadap burung kicau turut membentuk dinamika pasar yang kompleks. Dalam berbagai perlombaan, burung dinilai berdasarkan kualitas kicauan, variasi lagu, volume suara, hingga penampilannya. Kriteria tersebut mendorong sebagian penghobi mencari individu dengan karakteristik tertentu yang dianggap memiliki nilai lebih tinggi. Pada kondisi tertentu, permintaan ini dapat menciptakan insentif ekonomi bagi para pemburu untuk menangkap burung dari habitat alaminya. Salah satu spesies yang populer di kalangan penghobi adalah murai batu (Copsychus malabaricus), burung yang juga menjadi inspirasi lagu Kicau Mania. Dinamika serupa juga terjadi pada jenis lain yang popularitasnya mengikuti tren pasar. Ketika pasokan masih bergantung pada hasil tangkapan liar, tekanan terhadap populasi burung di alam pun berpotensi meningkat. Menurut Direktur SCENTS, Erawan, popularitas Kicau Mania dapat menjadi momentum untuk membangun kesadaran bahwa hobi dan konservasi seharusnya berjalan beriringan. “Burung yang berkicau di arena lomba tidak boleh dibayar dengan hilangnya suara burung di hutan. Selama masih ada permintaan terhadap burung hasil tangkapan liar, tekanan terhadap populasi burung di alam akan terus terjadi. Karena itu, komunitas kicau mania memiliki peran penting untuk memastikan bahwa kecintaan terhadap burung menjadi bagian dari solusi konservasi, bukan sumber ancaman bagi kelestariannya,” tegas Direktur SCENTS, Erawan. Di sinilah peran komunitas kicau mania menjadi penting. Mengutamakan burung hasil penangkaran yang memiliki identitas jelas, menolak perdagangan burung dilindungi, serta meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya menjaga populasi burung di alam merupakan langkah nyata yang dapat dilakukan bersama. Popularitas lagu Kicau Mania menunjukkan bahwa kecintaan masyarakat Indonesia terhadap burung masih sangat kuat. Momentum ini seharusnya tidak hanya dirayakan sebagai bagian dari budaya dan hobi, tetapi juga dimanfaatkan untuk memperkuat kesadaran konservasi. Pada akhirnya, keberlanjutan dunia kicau mania tidak hanya ditentukan oleh ramainya arena perlombaan, melainkan juga oleh kemampuan kita memastikan bahwa burung-burung di alam tetap dapat berkicau untuk generasi yang akan datang. Penulis: Sekar/SCENTS Navigasi pos Belum Sempat Dikenal Sudah Terancam, Kisah Kelinci Belang Sumatra Dari Selat Bali ke Pasar Burung Blambangan