Informasi tentang dugaan jejak harimau dan suara auman di sekitar Parapat, Kecamatan Girsang Sipanganbolon, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara pada awal tahun 2026 sempat menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Kekhawatiran itu semakin menguat setelah seekor satwa ditemukan mati tertabrak kendaraan di ruas Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum). Hasil verifikasi dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam memastikan bahwa satwa tersebut bukan anak Harimau Sumatera, melainkan kucing hutan atau harimau akar (Prionailurus bengalensis). Meski bukan harimau, kejadian ini tetap menjadi sinyal penting tentang semakin rapuhnya batas antara ruang hidup manusia dan satwa liar. Ilustrasi kucing hutan atau harimau akar (Prionailurus bengalensis), (Generated by SCENTS) Harimau akar merupakan kucing liar berukuran kecil yang hidup di kawasan tepi hutan dan lanskap transisi. Ia berperan menjaga keseimbangan ekosistem dengan memangsa hewan kecil seperti tikus dan serangga. Namun, menyempitnya habitat akibat pembukaan lahan, perluasan permukiman, dan pembangunan infrastruktur membuat satwa ini terdorong keluar dari wilayah jelajah alaminya dan meningkatkan peluang perjumpaan dengan manusia, termasuk risiko road kill di jalan-jalan utama.SCENTS menilai kejadian di Simalungun bukan peristiwa tunggal, melainkan bagian dari pola yang semakin sering terjadi di berbagai wilayah Sumatra. Direktur SCENTS menegaskan, Munculnya satwa liar di dekat permukiman bukan berarti populasinya bertambah, tetapi justru menandakan ruang hidup mereka semakin menyempit. Jalan dan pembangunan memotong koridor alami satwa. Ketika habitat terfragmentasi, satwa terpaksa melintas di ruang manusia, dan konflik pun tak terhindarkan Direktur SCENTS - Erawan Ia menambahkan bahwa kematian kucing hutan di Jalinsum Parapat adalah pengingat keras bahwa banyak ruas jalan saat ini berada tepat di lintasan satwa liar yang dahulu masih utuh. Tanpa pengelolaan lanskap yang lebih peka terhadap ekologi, insiden serupa berpotensi terus berulang. Ruas jalan yang membelah kawasan hutan menjadi lintasan berisiko bagi satwa liar, meningkatkan potensi konflik dan kasus road kill. (Generated by SCENTS) Dari sisi mitigasi, SCENTS mendorong beberapa langkah praktis yang dapat segera dilakukan bersama: peningkatan kewaspadaan pengendara di kawasan hutan, pemasangan rambu lintasan satwa di titik rawan, serta pelaporan cepat kepada pihak berwenang jika masyarakat menemukan jejak atau tanda keberadaan satwa liar. Edukasi publik juga menjadi kunci agar masyarakat tidak panik dan tidak mengambil tindakan yang justru membahayakan satwa. Technical Advisor SCENTS menambahkan: Kucing hutan ... bukan satwa berbahaya bagi manusia, justru sering menjadi korban saat habitatnya terganggu. Ketika jalan memotong habitat, risiko road kill meningkat. Kasus tertabraknya kucing hutan di Jalinsum Parapat adalah alarm bahwa jalur ini berada di lintasan satwa liar Technical Advisor SCENTS - Dwi N.A Lebih jauh, kasus ini menegaskan pentingnya menjaga koridor satwa dan sisa-sisa habitat alami di tengah laju pembangunan. Ketika hutan terpecah menjadi petak-petak kecil, satwa kehilangan jalur aman untuk berpindah, mencari makan, dan berkembang biak. Dalam jangka panjang, kondisi ini bukan hanya mengancam satwa, tetapi juga kestabilan ekosistem yang menopang kehidupan manusia. Fragmentasi habitat membuat ruang hidup satwa yang terbelah membuat perjumpaan dengan manusia kian tak terhindarkan. (Generated by SCENTS) Peristiwa di Simalungun adalah pengingat bahwa keberadaan satwa liar di sekitar kita bukan ancaman melainkan pesan dari alam. Pesan bahwa ruang bernapas mereka kian menyusut, dan bahwa kita semua memiliki peran untuk memastikan pembangunan berjalan seiring dengan perlindungan keanekaragaman hayati. Post navigation Penyelundupan Ratusan Satwa Dilindungi dari Aceh Digagalkan!!! Ratusan Satwa Endemik Papua Digagalkan dari Penyelundupan di Ternate